Dalam Bab Kelima Puluh Tujuh Kitab Tao Te Ching, Laozi mengemukakanparadoks pemerintahan. Ia mengamati bahwa jika para pemimpin mencoba mempertahankan ketertiban dengan menambah larangan eksternal dan hukum yang keras, hasilnya justru berkebalikan. Ini bukan berarti mendukung anarchisme, tetapi menunjukkan bagaimana intervensi administratif yang berlebihan dapat mengganggu otonomi masyarakat dan aliran ekonomi, menyebabkan masyarakat terjebak dalam siklus negatif yang disebut 'kelangkaan buatan'.
Teks Asli Inti dan Penjelasannya
ใไปฅๆญฃๆฒปๅ๏ผไปฅๅฅ็จๅ ต๏ผไปฅ็กไบๅๅคฉไธใๅพไฝไปฅ็ฅๅ ถ็ถๅ๏ผไปฅๆญค๏ผๅคฉไธๅคๅฟ่ซฑ๏ผ่ๆฐๅฝ่ฒง๏ผไบบๅคๅฉๅจ๏ผๅๅฎถๆปๆ๏ผไบบๅคไผๅทง๏ผๅฅ็ฉๆป่ตท๏ผๆณไปคๆปๅฝฐ๏ผ็่ณๅคๆใใ
- Tiga prinsip pemerintahan: โBenarโ (jalur yang tenang dan lurus) untuk mengatur negara, โKecuranganโ (strategi berubah-ubah dan licik) untuk perang, dan โTanpa Tindakanโ (wu wei/tidak bertindak) untuk mendapatkan hati rakyat.
- Larangan dan kemiskinan: Semakin banyak larangan administratif, semakin tinggi biaya transaksi dalam aliran sumber daya sosial, sehingga rakyat malah terjebak dalam kemiskinan.
- ๆณไปค่็่ณ๏ผ ็ถๆณๅพ็ดฐ็ขๅฐ็พๅงๅ่ผๅพๅๆ๏ผไบบๅๆ่ฝ่้ฝๆณๅพๆผๆดๆๆกๅๅฐๆ๏ผไฝฟๅพๆณๅพๆฌ่บซๆไบใ่ฃฝ้ ็่ณใ็ๆฉๅจใ
Catatan Sejarah
(1) Benar: Jalur yang benar dan tenang. (2) Kecurangan: Teknik licik dan berubah-ubah. (3) Tanpa Tindakan: Mengacu pada wu wei (tidak bertindak), tidak mengganggu kehidupan rakyat secara sembarangan. (6) Larangan: Larangan pencegahan. (8) Senjata atau kekuasaan: Senjata canggih atau cara-cara politik.